Susannah Temko, 24

Saya baru tahu saya mengalami kelainan interseks beberapa bulan setelah menyelesaikan kemoterapi. Saya baru saja berumur 16 tahun pada saat itu. Saya sangat panik karena ini membuat saya merasa tidak mengenali diri sendiri lagi. Tidak ada yang dapat menjelaskan apa artinya.

Saya tidak didefinisikan oleh XY kromosom, karena saya lah yang berhak untuk mendefinisikan diri. Menjadi interseks tak membuat saya berpikir bahwa saya bukan wanita sesungguhnya. Dulu saya menghabiskan waktu untuk bertanya-tanya apakah saya bisa disebut sebagai wanita. Dan saya pun sadar bahwa hal ini sia-sia, karena pada kenyataannya, saya adalah wanita yang seutuhnya. - Susannah, 24
@Dove
2016-03-31T00:00:00.000Z

Ini artinya saya memiliki kromosom XY dan streak gonads (yang sudah dibuang), di mana organ-organ itu bukan ovarium tapi juga bukan testis. Saya mengganggap diri saya wanita, tapi saya berpikir bahwa saya bukan wanita sesungguhnya. Ini benar-benar menyedihkan. Waktu umur saya 18 tahun, saya menjadi sangat depresi, dan pada satu titik, saya ingin bunuh diri. Saya memiliki gangguan makan. Saya merasa saya harus tampil seperti model Victoria's Secret. Dan bahwa saya harus menjadi sangat feminin dan mengagumkan, dengan berusaha menjadi yang sempurna. Saya tidak bisa keluar rumah tanpa berdandan dan wajah penuh makeup. 

Titik baliknya adalah saat saya mulai menulis blog. Saya menulis tentang kanker, dan pesan yang saya sampaikan adalah tidak ada salahnya memiliki penyakit; kamu tidak seharusnya merasa malu memiliki penyakit- karena semua orang kuat dan cantik. Sudah lebih dari setahun saya akhirnya menulis blog tentang interseks. Saya sangat gugup ketika pertama kali saya menayangkan blog itu, karena 5.000 orang akan membacanya. Tapi, hal ini dapat membuat diri saya lega. Setelahnya, saya bersikap sangat terbuka tentang hal itu dan saya sadar jika orang lain tidak suka dengan hal itu, itu masalah mereka, bukan saya. Meski tak sempurna, saya merasa lebih kuat. Tapi, jauh sebelum itu, suara dan kritik yang bergema di kepala saya membuat saya lemah. Namun kini, saya tak lagi peduli.